Wedang Cemoe


 
 

  sebagai orang asli Ponorogo, cemoe bukan hanya minuman buatku. dia adalah kenangan—tentang masa kecil, tentang gerimis, tentang ibu yang selalu berkata, “ayo wedang dulu, biar anget.”

cemoe biasanya disajikan dalam gelas sederhana. isinya bermacam-macam: potongan roti tawar, kacang tanah sangrai, ketan hitam, dan kadang juga pacar cina yang kenyal-kenyal. semuanya disiram pakai kuah santan manis yang harum jahe dan daun pandan. hangat, lembut, dan manisnya pas—nggak lebay, tapi langsung bikin tenang.

dulu waktu aku masih kecil, tiap malam minggu itu waktu yang kutunggu. bukan buat jalan-jalan ke luar kota, tapi cukup diajak bapak ke alun-alun, terus duduk di tikar sambil menikmati cemoe. kadang sambil dengerin pengamen, kadang sambil ngobrolin hal-hal kecil.

dan saat itu, rasanya dunia nggak ribet. cukup segelas cemoe, dan semuanya baik-baik saja.

cemoe juga jadi minuman wajib waktu ada acara keluarga besar. setelah makan malam, biasanya ibu atau mbahku sudah siapin panci besar berisi cemoe. baunya langsung nyebar ke seluruh rumah. roti rebutan anak-anak, orang dewasa cari kacangnya. Rama. hangat. kayak pelukan dari masa lalu.

aku suka bilang, cemoe itu minuman yang tidak pernah berubah. meskipun zaman terus ganti, meskipun kafe-kafe baru bermunculan, rasa cemoe tetap seperti dulu—sederhana, tapi menyentuh.

jadi, buat kamu yang belum pernah coba, datanglah ke Ponorogo saat malam. cari warung kaki lima yang masih jual cemoe. duduk sebentar, hirup uap hangatnya, dan seruput pelan-pelan. mungkin kamu bukan hanya minum minuman tradisional, tapi juga sedang meneguk sepotong cerita dari kota kecil yang penuh kenangan.